Dedikasi TBM Jawara: Menghidupkan Literasi di Tengah Gempuran Digitalisasi Kota Serang

BISNISBANTEN.COM – Di tengah kepungan arus digitalisasi yang membuat anak-anak lebih akrab dengan gawai, sekelompok penggiat literasi di Kota Serang terus bergerilya. Salah satunya adalah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jawara, yang kini telah memasuki usia satu dekade sejak berdiri pada Maret 2016.
Berlokasi di kawasan bersejarah Keraton Kaibon, Kecamatan Kasemen, TBM Jawara rutin menggelar baca buku setiap minggu. Kawasan ruang publik ini dipilih karena menjadi magnet bagi warga dan wisatawan, menjadikannya lokasi strategis untuk menjaring minat baca anak-anak.
Founder TBM Jawara Badri, mengungkapkan bahwa perjalanan selama 10 tahun ini dilalui dengan semangat kemandirian. Meski telah berganti kepemimpinan hingga tiga kali—dari Badri ke Teh Lidia dan kini dipimpin oleh Kak Ubay—semangat untuk menyediakan akses bacaan gratis tak pernah surut.
“Kami rutin mengadakan gelaran buku untuk pengunjung Keraton Kaibon. Ini area publik yang ramai, jadi kami ambil kesempatan ini bersama para relawan yang berjumlah sekitar 15 orang,” ujar Badri.
Tantangan utama yang dihadapi adalah mobilitas. Hingga kini, TBM Jawara masih menggunakan sepeda motor pribadi dengan kardus untuk membawa buku dari sekretariat mereka di Perum Mina Bakti.
“Sekali jalan paling membawa sekitar 100 buku. Kami memang belum memiliki kendaraan khusus literasi seperti bantuan dari pusat,” tambahnya. Meski demikian, koleksi mereka cukup mumpuni, dengan total ribuan buku hasil bantuan dari Kantor Bahasa, Perpusnas, hingga Dinas Pendidikan.
Ketua Forum TBM Kota Serang Nana Heriyatna, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menekankan pentingnya literasi fisik di era digital. Menurutnya, membaca buku memberikan dampak psikologis dan aplikasi nyata yang berbeda dibandingkan sekadar membaca di layar ponsel.
“Literasi digital itu penting, tapi anak-anak kini agak sulit membaca buku fisik. Dengan kegiatan ini, kami ingin memicu kembali kegemaran membaca. Membaca buku seringkali mendorong mereka melakukan hal positif dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, bukan sekadar baca lalu selesai,” jelas Nana.
Selain membaca, TBM Jawara juga meramu kegiatan dengan berbagai permainan edukatif untuk merangsang kreativitas dan IQ anak-anak, mulai dari usia PAUD hingga SMP.
Saat ini, terdapat 114 TBM yang terdaftar di Forum TBM Kota Serang, dengan 85 di antaranya aktif tersebar di 6 kecamatan.
Meski berjalan secara mandiri dengan anggaran pribadi dari para penggiatnya, Forum TBM Kota Serang berkomitmen untuk terus bergerak. “Sejak 2016 kami berjuang dan tidak pernah surut. Karena dengan membaca, kita bisa membuka jendela dunia,” tutup Nana Heriyatna.
Namun, Sekretaris Forum TBM Kota Serang Nuriman menyoroti masih minimnya fasilitasi konkrit dari Pemerintah Kota (Pemkot) Serang.
Nuriman berharap Pemkot melalui Dinas Pendidikan, Dinas Perpustakaan, dan Diskominfo dapat lebih proaktif. Salah satu langkah strategis yang diusulkan adalah memediasi TBM untuk masuk ke sekolah-sekolah.
“Harapan kami, Pemkot menguatkan niatan kami di setiap kecamatan. Kami ingin difasilitasi dan dimediasi untuk berkolaborasi dengan sekolah-sekolah. Literasi itu spektrumnya luas, ada literasi finansial hingga budaya. Potensi penggiat yang luar biasa ini harus direspon baik oleh Pemkot,” tegas Nuriman.(siska)









