Wagub Banten Dimyati Natakusumah Apresiasi Bedah Buku Baduy

BISNISBANTEN.COM — Wakil Gubernur (Wagub) Banten Achmad Dimyati Natakusumah menghadiri kegiatan bedah buku berjudul Baduy: Masyarakat 1001 Tabu, di Aula Horison TC UPI Serang, Kota Serang, Kamis (12/2/2027). Ia mengapresiasi terselenggaranya bedah buku yang menghadirkan para akademisi sebagai pembedah.
Hadir sebagai narasumber dalam buku tersebut di antaranya akademisi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Retty Isnendes, akademisi Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten Ade Jaya Suryani, dan penulis buku Uday Suhada. Menurut Dimyati, buku tersebut memiliki kualitas yang baik dari sisi penulisan, kelengkapan pustaka, maupun hasil kajian empiriknya.
“Alhamdulillah, hari ini ada bedah buku, dan luar biasa yang membedahnya para profesor. Bukunya bagus, dari sisi penulisannya bagus, dari pustakanya juga bagus, dan dari hasil kajian empiriknya juga bagus,” ungkap Dimyati.
Dimyati menilai buku tersebut mampu menjadi referensi bagi kalangan akademisi maupun mahasiswa yang tengah menyusun skripsi, tesis, dan disertasi. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang terdorong untuk menulis karya ilmiah, khususnya yang mengangkat kekayaan budaya lokal Banten.
Keberadaan buku ini juga dapat menjadi bagian dari dokumentasi dan literasi mengenai Baduy. Suku pelestari alam ini merupakan masyarakat adat yang ada di Provinsi Banten yang sejak lama menjaga adat istiadat.
“Baduy ini hanya ada di Banten, di dunia ini hanya ada di Banten. Kita juga harus banyak belajar dari masyarakat Baduy,” katanya.
Dimyati menyampaikan terima kasih kepada penulis atas karya yang dinilainya sebagai bukti nyata kontribusi bagi daerah, bangsa, dan negara. Ia berharap buku tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar dapat dibaca masyarakat internasional.
“Saya berharap buku ini diterjemahkan ke bahasa Inggris supaya orang-orang luar bisa membaca dan memahami Baduy. Ini juga bisa mendorong kunjungan wisatawan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Dimyati menilai kegiatan bedah buku tersebut sekaligus menjadi seruan untuk meningkatkan daya literasi masyarakat. Ia mengapresiasi proses akademik yang dilakukan secara terbuka dan ilmiah, sehingga memperkaya wawasan serta pemahaman tentang kehidupan masyarakat Baduy.
“Saya yakin buku ini akan banyak dicari orang. Ini bukan hanya untuk Banten, tetapi untuk bangsa dan negara,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Rudi Susilana menyampaikan kegiatan bedah buku tersebut merupakan bagian dari komitmen UPI untuk membumikan kampus di tengah masyarakat Banten. UPI tidak hanya hadir sebagai institusi akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan literasi masyarakat.
“UPI hadir di Banten harus menyatu dan membumi. Kegiatan ini bagian dari upaya membumikan UPI sekaligus mengangkat komunitas masyarakat yang patut dijadikan contoh dan dibukukan sebagai bahan literasi bagi masyarakat umum,” ujarnya.
Ia juga menyambut baik gagasan Wagub Dimyati untuk menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Inggris. Menurutnya, hal itu memungkinkan untuk direalisasikan, mengingat tim editor memiliki kompetensi di bidang linguistik bahasa Inggris.
“Kami akan memfasilitasi agar buku ini bisa diterjemahkan dan dicetak dalam edisi bahasa Inggris. Harapannya bukan hanya membumi, tetapi juga mendunia,” katanya.
Ditempat yang sama, Uday Suhada, penulis buku Baduy: Masyarakat 1001 Tabu, menuturkan kegiatan bedah buku tersebut juga menghadirkan para pakar di bidangnya guna memastikan objektivitas dan kualitas akademik karyanya.
“Saya ingin subjektivitas saya dieliminir melalui bedah oleh para pakar dan merupakan akademisi yang memiliki kompetensi dan pengalaman riset tentang Baduy,” ujarnya.
Uday berharap kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam meningkatkan budaya literasi di Banten. Perguruan tinggi juga dapat mendukung dalam meningkatkan budaya literasi termasuk untuk narasi-narasi kedaerahan.
“Sehingga tidak hanya kampusnya yang megah, tapi juga terasa oleh masyarakat Banten manfaat keberadaannya,” katanya.









