Pengamat Politik UMT: Kabinet Kerja Jilid 2 Jokowi-Amin Kejutan Besar!

6

BISNISBANTEN.COM – Presiden Jokowi bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah resmi mengumumkan kabinet kerja jilid 2, atau yang juga disebut kabinet Indonesia Maju hari ini, Rabu (23/10). Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Memed Chumaedi menilai, komposisi Pada kabinet Indonesia Maju kali ini merupakan kejutan besar-besaran yang ditampilkan pemerintahan kali ini.

Ia menguraikan, Jokowi pada priode kedua ini ingin fokus pada pengembangan SDM. Pembuktiannya dengan dihadirkannya tokoh-tokoh muda profesional seperti Nadiem, Bahlil, Wisnutama dan Erick tohir.
Jokowi di priode kedua kali ini tidak terjebak oligarki partai yg membelenggu. Dengan komposisi 45 % untuk Parpol dan 55% kelompok profesional membuktikan komitmen jokowi tidak terjebak oleh dinamika oligark.

“Kapasitas “the right man and the righ place” ditunjukkann oleh jokowi pada komposisi kementrian saat ini, ingin jokowi memberikan kepercayaan publik kepada pemerintahan meningkat lagi. Walaupun ada beberapa hal yang saya anggap tidak layak seperti Edhy Prabowo yang menempatkan posisi kementrian KKP yang dahulunya dipegang oleh sussi,” ujar Memed kepada Bisnisbanten.com.

Kita tahu, lanjutnya, bahwa susi berhasil membawa indonesia di mata dunia dalam bidang pelestarian tangkap laut dan meminimalisir illegal fishing. Tapi realitas politik berkata lain. Pedahal jokowi di mata dunia dikenal melalui penempatan susi di kementrian KKP.

Memed juga menyatakan, kehadiran Prabowo dalam kabinet Jokowi sejatinya ingin mengembalikan kepercayaan publik pasca Pilpres agar meminimalisir konflik. Akan tetapi asumsi publik adalah bahwa pragmatisme politik sangat kental dimainkan oleh prabowo dengan maunya dia dikabinet jokowi dan publik sejatinya masih terngiang aroma kontestasi yang belum berkesudahan.

“Selanjutnya keterlibatan banyak jendral dalam kabinet ini yang perlu dipertanyakan, apakah ini jawaban atas polarisasi dan konflik ditubuh TNI dan Polri? dengan menghadirkan ex jendral seperti Fahrurozi, Prabowo dan Muldoko, Luhut, Budi Gunawan serta dr Terawan dan Tito Karnavian,” papar Dosen Sistem Politik Indonesia UMT Kota Tangerang tersebut.

Secara keseluruhan, tambahnya, ex jendral tersebut sudah tepat kecuali Jendral Fahrurozi yang ditempatkan di Kementrian Agama. “Apakah jokowi tidak percaya dengan NU dan muhammadiyah? Atau ada peran lain di luar itu? karena ini di luar kebiasaan. Dan yg terakhir soal peran NU yang konon berdarah-darah, tapi porsinya tidak begitu dominan. Bagi saya Jokowi ingin melibatkan seluruh elemen bangsa agar tidak ada lagi polarisasi yang berkembang selama ini. Pada kabinet indonesia maju ini jokowi ingin “SDM unggul” dan orientasi politik lebih kepada kemajuan bangsa,” imbuh Memed. (AHR)