Pengamat: Merger Bank bjb dan Bank Banten Jangan Tergesa Gesa

13

BISNISBANTEN.COM – Sejumlah pengamat ekonomi memperingatkan agar rencana merger Bank bjb dan Bank Banten tidak tergesa-gesa, agar wacana aksi korporasi itu tidak berujung petaka.

Pengamat Ekonomi Jawa Barat, Tubagus Raditya menilai, sebaiknya setiap pihak menahan diri untuk melakukan merger.
Sebab, saat ini Bank bjb misalnya, masih melakukan tahapan persiapan due diligence (uji kelayakan) selama 2-3 bulan.
“Jangan terlalu dini membicarakan proses merger, karena ini yang menjadi sebuah bahasa yang kurang tepat, sehingga mengganggu harga saham bank bjb. Jadi jangan dulu bicara tentang merger, kalau LOI iya betul. tahapan-tahapannya untuk keputusan merger itu masih ada 2 sampai 3 bulan lagi,” kata Raditya atau sapaan akrabnya Didit, Sabtu (2/5/2020).

Didit mengatakan, proses persiapan due diligence yang akan dilakukan pun harus berjalan secara cermat, rinci, dan transparan. Serta, dilakukan oleh perusahaan atau institusi yang kredibel.
Sehingga, ketika hasil due diligence itu dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), keputusan atau kesepakatan yang diambil bisa tepat dan menguntungkan kedua belah pihak secara merata.

Sebaliknya, apabila hasil due diligence itu ternyata tidak menguntungkan untuk bank bjb, kata Didit, opsi yang tepat adalah melakukan akuisisi ketimbang merger.
“Kalau memang ini melihat ternyata entitasnya sama, sama-sama untung bisa merger,” ujarnya.

Menurut Didit, isu merger yang tengah merebak di masyarakat saat ini, bisa berdampak buruk terhadap pedagangan saham bank bjb. Maka dari itu, semua pihak harus menanggapi isu tersebut dengan bijak, agar tidak kemudian memberikan efek buruk terhadap harga saham bank bjb.
“Harga saham Bank bjb itu semenjak tanggal 21 April berada di angka Rp940, lalu turun di Rp935, lalu naik lagi Rp945. Nah sekarang itu terus turun sampai 30 April di Rp805. Apakah ini juga memengaruhi? Ini yang harus kita jaga. Jangan sampai isu merger ini menjadi tekanan terhadap harga saham di bank bjb di bursa,” ungkapnya.

Dosen Ekonomi dan Pasar Modal Universitas Langlangbuana, Asep Saepudin menjelaskan, saat ini bank bjb memang memerlukan pertumbuhan termasuk pertumbuhan non-organik, antara lain melalui akuisisi ataupun merger dengan bank lain.
“Tapi tentu bank yang menggabungkan atau diakuisisi harus bank sehat. Sehingga dalam jangka pendek memberikan pengaruh yang positif terhadap bank bjb,” terangnya.

Asep menuturkan, ketika bank yang dimergerkan dalam kondisi tidak terlalu sehat seperti Bank Banten tentu memberikan tantangan dan pekerjaan rumah bagi bank bjb untuk membenahinya.

“Dalam jangka panjang tentu bagus untuk pertumbuhan bank bjb. Apalagi pasar yang dibawa dari Bank Banten ini jelas dan terspesifikasi,” paparnya.
Menurutnya, dalam jangka panjang bank bjb hanya perlu pembenahan untuk unitnya di wilayah atau cabang-cabang yang dimiliki Bank Banten.

Asep menjelaskan, penggabungan Bank Banten ke bank bjb merupakan solusi yang paling baik. Bagi bank cukup bagus untuk pertumbuhan jangka panjangnya.
“Ini agar Bank Banten selamat dari missmanagement yang selama ini terjadi,” tambahnya.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) segera memproses permohonan rencana penggabungan usaha PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) ke dalam PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR).
Rencana tersebut telah dituangkan dalam Letter of Intent (LOI) yang ditandatangani hari ini Kamis, 23 April 2020 oleh Gubernur Banten Wahidin Halim selaku Pemegang Saham Pengendali Terakhir Bank Banten dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil selaku Pemegang Saham Pengendali Terakhir Bank BJB. Hal-hal teknis yang berkaitan dengan Letter of Intent akan ditindaklanjuti dengan Perjanjian Kerja Sama kedua belah pihak. (ADM)