Keuangan

Hindari Risiko Tekanan Global, SBN Harus Dijaga

BISNISBANTEN.COM — Realisasi Pembiayaan melalui penerbitan utang sampai dengan Bulan Februari turun 66,1 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. Jika realisasi pembiayaan Surat Berharga Negara (SBN Netto) pada Februari 2021 sebesar Rp271,4 triliun, maka realisasi pada Februari 2022 hanya Rp67,7 triliun.

“Ini lebih dari Rp200 triliun dropnya penurunan dari penerbitan SBN kita atau turun 66 persen,” ungkap Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pada Konferensi Pers APBN KITA Edisi Maret 2022, Senin (28/3).

Menkeu menilai, penurunan ini sangat bagus di tengah risiko global yang bergeser kepada sektor keuangan dengan adanya Fed fund rate yang meningkat, inflasi tinggi, dan suku bunga akan naik yang akan mempengaruhi yield.

Advertisement

“Tentu SBN harus kita jaga. Dan dengan penerbitan yang menurun, kita bisa menghindari sebagian dari risiko. Karena tekanan global ini tentu akan juga berkonsekuensi kepada APBN kita,” jelas Menkeu.

Untuk itu, Pemerintah terus melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga volatilitas kondisi pasar. Menkeu mengatakan, melalui SKB I, BI masih akan menjadi standby buyer dan sudah merealisasikan Surat Utang Negara sebesar Rp6,06 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara sebesar Rp2,07 triliun. Sedangkan untuk SKB III akan dilakukan pada semester kedua.

Pembiayaan dijalankan dengan tetap memperhatikan kondisi pasar dan likuiditas agar pelaksanaan APBN 2022 tetap berjalan optimal sebagai pondasi yang kuat menuju konsolidasi fiskal tahun 2023. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga kesehatan dan keselamatan rakyat, melanjutkan pemulihan ekonomi, dan mengembalikan kesehatan APBN.

“Ini adalah cara kita untuk tadi melindungi APBN. Karena APBN harus tetap dijaga kesehatannya, agar APBN bisa melindungi masyarakat dan melindungi ekonomi,” pungkas Menkeu. (susi)

Advertisement

Advertisement
LANJUT BACA

Susi Kurniawati

Wartawan bisnisbanten.com