Banten24

Begini Sejarah, Jenis, dan Keistimewaan Golok Banten

BISNISBANTEN.COM — UPTD Taman Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten mengingatkan kembali sebuah sejarah berharga yang nyaris terlupakan oleh masyarakat, yakni sejarah Golok Banten, melalui seminar Sejarah Banten sesi internasional yang digelar melalui zoom, Rabu (24/3).

Seminar yang bertajuk “Golok Banten sejarah dan jenisnya” ini diisi oleh 3 narasumber bepengalaman. Diantaranya guru besar seni golok Indonesia, Ki Kumbang, kemudian penulis buku the golok Italy dan Presiden Netherlands Pencak Silat Federation Belanda, Olivier Blancquert.

Golok di Banten ternyata memiliki sejarah yang panjang. Menurut literasi yang dihimpun, Peristiwa Surosoan pada Tahun 1808 (Saksi Bisu Hilangnya Peradaban Golok Banten). Pada masa pemerintahan Sultan Banten Pertama Kanjeng Sinuhun Sultan Maulana Hasanudin atau yang bergelar Panembahan Surosowan, golok Banten berfungsi sebagai Alat persenjataan pasukan Kesultanan Banten.

Advertisement

Selain sebagai salah satu alat persenjataan, Golok Banten juga merupakan cinderamata atau pemberian dari Sultan Banten yang diberikan kepada para tamu kehormatan Kesulthanan, sehingga golok Banten ini Banyak Kita jumpai di berbagai wilayah Indonesia bahkan Internasional.

Menurut beberapa sumber, lokasi sentral pembuatan golok Banten dahulu berada di wilayah Serang-Banten, tepatnya di wilayah Pandeaan. Namun saat ini sudah tidak ada lagi penempa yang bisa kita temui di wilayah tersebut.

Hal ini mungkin berhubungan dengan Peristiwa yang terjadi di Benteng Surosowan pada tahun 1808, yang merupakan salah satu saksi bisu perlawanan gigih rakyat Banten saat berperang melawan Belanda. Sultan abu al mafakhir Muhammad Aghliuddin atau Sultan Aliyudin ll yang merupakan anak dari Sultan abu al Mafakhir Muhammad Aliyudin (Sultan Aliyudin I) membuat sebuah keputusan bersejarah.

Dia menolak mentah-mentah permintaan Gubernur Jenderal Daendels untuk mengirim 10.000 rakyat banten untuk melakukan kerja paksa pembuatan jalan di wilayah Anyer menuju Pangkalan
militer Belanda di Ujung Kulon. Tidak cukup bersikap menolak, Sultan pun memenggal kepala Du Puy, utusan Daendels yang dianggap bersikap congkak dan konon mengirimkan kepalanya langsung kepada Daendels.

Advertisement

Akibat peristiwa ini, tempat-tempat basis pembuatan senjata di Banten dihancurkan Belanda. Belanda pun mengeluarkan Undang-undang darurat tentang senjata atau golok bagi siapapun yang membawa akan dihukum atau di penjarakan.

Terlebih jika golok itu memiliki jenis bilah Candung atau Ujung turun yang pada masa itu, bilah Golok Banten jenis Candung atau Ujung turun ini adalah termasuk salah satu golok model tempur terbaik para prajurit Kesultanan Banten.

“Dari hasil penelitian di sekitar “wilayah Banten, kami masih menemukan beberapa Golok Banten yang Secara Umum mempunyai ciri Khas dari Hulu/Gagang Ceker Kidang atau kaki kijang. Yang biasanya terbuat dari tanduk kerbau yang mempunyai Filosofi Kelincahan gerak, ketangkasan dan Keluwesan serta kepekaan Batin,” ujar Ki Kumbang.

“Adapun bentuk bilah Golok yang paling sering kami jumpai di wilayah Banten, adalah berbentuk Candung/Ujung turun (bagian ujung bilah menghadap ke bawah) dan Kembang Kacang/Salam Nunggal (bagian tajam ujung bilah menghadap ke atas),” lanjutnya.

Setelah dilakukan penelitian di Laboratorium Metallurgy Institute Teknologi Bandung, Golok banten memiliki 10 unsur material, yaitu : Ferrum (Fe), Phosphor (P), Copper (Cu), Silicon (Si), Alumunium (Al), Sulfur (S), Carbon (C) Titanium (Ti), Wolfram (W), Mangan (Mn).

Dalam pemaparannya, guru besar seni golok Indonesia, Ki Kumbang mengungkapkan bahwa golok adalah salah satu Pusaka Banten warisan Bangsa Indonesia yang memiliki berbagai jenis, seperti jenis bilah dan jenis handle. Dari sekian macam jenis, semuanya memiliki arti dan philosofi yang terkandung kuat di dalamnya.

“Beberapa jenis dari Golok pusaka juga ada yang berhiaskan emas dan batu mulia yang menandakan strata sang pemiliknya. Sebagian dari Golok pusaka juga ada yang dikramatkan, baik karena memiliki unsur spiritual yang terkandung di dalamnya ataupun karena jenis material langka yang disatukan pada bilahnya,” paparnya.

Kualitas dan kekuatan Golok Banten menurutnya, sulit dikalahkan oleh golok yang lain karena golok Banten berbahan meteorit. Sebuah senjata pusaka dengan bahan meteorit diprediksikan mampu bertahan ribuan tahun sekalipun terkubur dalam tanah atau terendam dalam air.

Ki Kumbang mengurai nama-nama belasan jenis golok, diantaranya golok salam nunggal, ujung turun, paut sintung, pameuncitan, paut nyere, malapah gedang, rajang, candung, gaplok, parahu nangkub, hambalan, galonggong dan sintung bening.

“Ditemukan banyak retakan alami tidak beraturan pada artefak maupun pusaka meteorit yang harfiahnya sangat keras sekali. Hal ini menunjukkan rentang waktu yang sangat lama sekali, karena untuk terbentuknya retakan retakan tersebut dibutuhkan waktu ribuan tahun,” terangnya.

Ki Kumbang berharap, masyarakat terutama kalangan anak muda akan lebih mengenal tentang aneka ragam jenis pusaka golok. Karena dengan mengenalnya, maka akan bertambah pengetahuan tentang budaya dan seni golok di masa lalu sampai sekarang ini.

“Yang penting diketahui bahwa Golok adalah senjata para raja tanah Pasundan, bukan senjata tani atau berkebun dan juga bukan senjata dari rumpun melayu. tetapi merupakan senjata masyarakat sunda pada zaman dahulu. Harapannya, kedepan tak ada lagi masyarakat yang memandang golok sebagai senjata tajam biasa,” jelasnya.

Sementara itu, penulis buku the golok Italy, Linda Turcy mengaku termotivasi menulis tentang golok karena melihat bahwa golok memiliki banyak keistimewaan, sehingga dirinya pun jatuh cinta.

“Saya menulis golok karena ada ketertarikan personal dan subyektif, karena ternyata benda ini merupakan senjata dan juga sekaligus identitas yang cukup menarik,” ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Presiden Netherlands Pencak Silat Federation Belanda, Olivier Blancquert. Sebagai praktisi pencak silat, dirinya akan terus mempromosikan golok di forum-forum internasional. Ia menganggap golok sebuah benda yang istimewa. (***)

Advertisement
LANJUT BACA

Susi Kurniawati

Wartawan bisnisbanten.com