Banten24

Begini Penjelasan BPS Soal Perkembangan IPM Banten

BISNISBANTEN.COM – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk). IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan, antara lain pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Agoes Soebeno menjelaskan, IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (knowledge), dan standard hidup layak (decent standard of living). Umur panjang dan hidup sehat digambarkan oleh Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH), yaitu jumlah tahun yang diharapkan dapat dicapai oleh bayi yang baru lahir untuk hidup.

“Pengetahuan diukur melalui indikator Harapan Lama Sekolah dan Rata-rata Lama Sekolah. Harapan Lama Sekolah didefinisikan sebagai lamanya tahun sekolah formal yang diharapkan akan dirasakan oleh anak umur 7 tahun di masa mendatang. Adapun Rata-rata Lama Sekolah adalah rata-rata lamanya (tahun) penduduk usia 25 tahun ke atas dalam menjalani pendidikan formal,” ujar Agoes, pada keterangan tertulis, Senin (16/4).

Advertisement

Sementara itu, lanjutnya, standar hidup layak digambarkan oleh Pengeluaran per kapita disesuaikan, yang nilainya ditentukan dari pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (purchasing power parity). Dengan paritas daya beli dihitung menurut harga-harga yang berlaku di Jakarta Selatan, sehingga nilai pengeluaran per kapita disesuaikan ini memiliki keterbandingan dengan daerah lainnya.

IPM dihitung berdasarkan rata-rata geometrik dari indeks kesehatan, indeks pengetahuan, dan indeks pengeluaran. Penghitungan ketiga indeks ini dilakukan dengan melakukan standardisasi, dengan nilai minimum dan maksimum masing-masing komponen indeks.

“Secara umum pembangunan manusia Banten selama tujuh tahun terakhir ini, terus mengalami kemajuan. Dimana, IPM Banten meningkat dari 67,54 pada tahun 2010 menjadi 71,42 pada tahun 2017. Hanya saja, pertumbuhan atau kecepatan kemajuannya pada tahun 2017 ini mengalami perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya,” urai Agoes.

Selain itu, tambah Agoes, status pembangunan manusianya masih tertahan pada level atau kategori “Tinggi” (70≤IPM<80). (AHR/NUA)

Advertisement

Penulis : Ahmad Haris
Editor : Nurzahara Amalia

Advertisement
LANJUT BACA